Setiap kali perayaan Imlek saya tidak pernah merasa 100% merayakan. Waktu kecil yang saya tahu hanya makan kue keranjang setiap kali merayakan Imlek, kadang dapat angpao juga tapi tidak selalu. Meskipun darah Tionghoa lebih kental, kalau nggak salah hanya nenek dari papa dan nenek buyut dari mama yang orang Jawa, saya lebih merasa orang Jawa. Mungkin karena budaya Tionghoa tidak terlalu dilestarikan dalam keluarga dan budaya Jawa yang lebih dikenal. Satu-satunya yang membuat kami merasa orang Tionghoa adalah bagaimana kami memanggil satu sama lain: "cik, koh, ik, wak, tio, mak, engkong".
Dari lima bersaudara, 3 anak punya nama Tionghoa. Kakak nomor empat dan saya tidak punya nama Tionghoa. Mama dan papa mau praktis, tidak perlu mengurus surat ganti nama dan berharap ini akan mempermudah hidup kami. Nyatanya waktu mendaftar di universitas, saya dianggap tidak bisa melengkapi syarat registrasi. Tercatat sebagai warga keturunan bukan pribumi, saya harus menyerahkan surat ganti nama, lah......nama Tionghoa aja nggak punya apalagi surat ganti nama?? Setelah mama datang ke kampus dan sempat bersitegang dengan petugas pendaftaran akhirnya saya lulus administrasi pendaftaran. Ini satu-satunya pengalaman diskriminasi yang saya rasakan.
Secara fisik, saya tidak terlihat sebagai orang Cina, mata nggak sipit, kulit yang nggak putih serta aksen Jawa Jogja yang kental. Pengalaman-pengalaman menarik pun terjadi. Saya tertawa dalam hati ketika teman-teman asyik berkomentar, "Orang Cina itu ya pelit-pelit", "Orang Cina itu sombong, nggak mau bergaul salam kita", "Dasar wong Cino!" Ketika sedang jalan dengan seorang teman yang bermata sipit, berkulit putih (padahal dia 100% orang Jawa), para penjual menyapa dia, "siang cik, mau beli apa, cik? Ini murah lho cik?". Saya senyum-senyum melihatnya. "Kamu yang Cina, aku yang dipanggil cik." Hahahaha....maaf ya mbak, saya Cina yang menyamar :D.
Mama, papa, om, tante bisa berbicara bahasa Jawa dengan baik, bahkan ada yang bisa berbahasa Jawa halus. Mama dulu sempat belajar di sekolah Tionghoa, jadi bisa berbicara bahasa Tionghoa, tapi kami anak-anaknya nggak pernah diajarin. Waktu kecil, kalau mama ngomong bahasa Tionghoa kami mengganggap mama sedang membicarakan kami atau hal-hal rahasia yang kami tidak boleh tahu ;). Sekarang keponakan-keponakan yang belajar bahasa Mandarin, bahkan mereka bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Mandarin. Setidaknya ada keturunan dalam keluarga kami yang belajar budaya nenek moyang.
Meski tidak tahu banyak budaya Tionghoa, bagaimanapun saya tetap bangga dan bahagia jadi orang Tionghoa Indonesia. Gong Xi Fa Cai !!!