Kali ini aku akan menulis tentang pengalaman ngobrol di ruang runggu dokter. Seperti yang diceritakan sebelumnya, aku pernah menjalani terapi untuk kista ovarium di tahun 2007 dan terakhir bulan April 2014 menjalani operasi laparoskopi untuk mengangkat kista ovarium, mioma uteri serta terapi endometriosis. Ini yang membuatku bolak-balik ke dokter kandungan.
Pengalaman yang unik dan tak terlupakan karena bukan sesuatu yang biasa perempuan single duduk manis di ruang tunggu klinik ginekologi :). Dari dulu kalau ke dokter jarang sekali aku ditemani, demikian juga ketika aku periksa ke dokter ginekolog. Di sinilah mulai ada pengalaman-pengalaman menarik.
Ketika dokter yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba, biasanya karena ada yang melahirkan atau operasi, kami pasien di klinik harus menunggu berjam-jam, bahkan pernah menunggu sampai 4 jam. Jika situasi begini, ibu-ibu yang duduk di sebelah kanan atau kiri mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar di klinik ginekolog, yang tak jarang perlu waktu beberapa saat untuk aku jawab:
- "Anak ke berapa?"
- "Udah berapa bulan?"
- "Anak pertama ya, mbak?" (PD sekali ya yang bertanya)
Reaksiku pertama biasanya senyum dulu (karena agak bingung gimana jawabnya) baru jawab. Biasanya si ibu segera minta maaf setelah mendengar jawabanku bahwa aku belum menikah dan aku ke dokter untuk terapi kista. Dan biasanya percakapan berlanjut dengan menanyakan sakitku, kadang kalau lagi nggak males ngobrol aku ladeni. Tapi kalau lagi nggak mood ngobrol, apalagi menceritakan penyakitku pada orang yang baru ketemu, biasanya aku yang mengambil alih peran jadi juru bertanya, aku yang mengajukan pertanyaan. Trik ini biasanya behasil, karena mereka akan dengan semangat menceritakan tentang kehamilan, anak dan keluarga. Trik lain yang aku lakukan khususnya kalau lagi males ngobrol: pake headset, ndengerin lagu dan baca buku, dijamin aman dari sesi tanya-jawab :D.
Ketika operasi laparoskopi aku ke klinik Permata Hati, RSUP Dr Sardjito yang merupakan klinik infertilitas. Di Jogja hanya di klinik tersebut yang bisa melakukan laparoskopi kandungan dengan dokter yang berpengalaman dan biaya yang lebih murah dibandingkan klinik lain. Pasien-pasien yang datang ke klinik ini kebanyakan adalah mereka yang sudah menikah lama dan belum dikaruniai anak. Maka daftar pertanyaan standar pun bertambah:
- "Sudah menikah berapa lama?"
- "Mau program (punya anak) ya?"
- "Mau program bayi tabung?"
Apa pun pertanyaannya, jawabannya sama, "Saya belum menikah." Well, menarik melihat perubahan paradigma dari ibu-ibu ini. Awalnya mereka berpikir hanya perempuan yang sudah menikah dan hamil yang ke dokter kandungan. Setelah tahu bahwa ada perempuan single yang periksa ke dokter kandungan, reaksi mereka pun berbeda-beda, ada yang merasa bersalah sampai berkali-kali minta maaf, ada yang kasihan, menunjukkan rasa iba dan berusaha menghibur, ada juga yang ingin tahu lebih banyak. Awalnya ada perasaan nggak nyaman berada di situasi ini, tapi lama-kelamaan terbiasa. Bahkan akhirnya ada perasaan senang bisa berbagi informasi seputar kesehatan reproduksi dan aku pun belajar dari para ibu hamil.
Kisah-kisah menarik perjuangan para ibu untuk mendapatkan momongan membuatku kagum. Ada yang sudah menikah lama, 7-10 tahun, mereka periksa ke dokter di berbagai klinik, terapi alternatif dan mengeluarkan biaya belasan bahkan puluhan jutaan rupiah untuk bisa mendapatkan keturunan.
Ada seorang ibu yang berbagi cerita, mendapat anak pertama melalui program bayi tabung setelah 7 tahun menikah. Anak pertama udah 2 tahun dan sekarang ingin program bayi tabung lagi untuk anak kedua. Ada ibu lain yang dengan sedih bercerita tuba falopii yang kiri tersumbat karena kelainan bawaan, sehingga hanya ovarium kanan yang berfungsi. Dia dan suami sangat ingin punya anak, dan berharap program hamil berhasil.
Aku jadi tahu kalau pasangan sudah menikah 1 tahun, berencana segera punya anak tapi belum ada tanda-tanda kehamilan, sebaiknya periksa ke dokter. Ini untuk tahu penyebabnya, apakah gangguan reproduksi dari suami atau istri, baru kemudian ada tindakan, dan mulai program hamil dengan terapi obat. Pilihan terakhir adalah program bayi tabung. Anak memang tidak ternilai harganya, tidak bisa diukur dengan uang. Berapa pun biaya akan dikeluarkan demi untuk mendapat keturunan.
Ternyata aku banyak belajar dari ngobrol-ngobrol di ruang tunggu klinik ginekolog: perubahan paradigma, kisah-kisah dari ibu hamil dan mereka yang sedang berjuang untuk melahirkan anak serta pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.