Kamis, 28 Agustus 2014

Ngobrol-ngobrol di Ruang Tunggu Dokter

Kali ini aku akan menulis tentang pengalaman ngobrol di ruang runggu dokter. Seperti yang diceritakan sebelumnya, aku pernah menjalani terapi untuk kista ovarium di tahun 2007 dan terakhir bulan April 2014 menjalani operasi laparoskopi untuk mengangkat kista ovarium, mioma uteri serta terapi endometriosis. Ini yang membuatku bolak-balik ke dokter kandungan.

Pengalaman yang unik dan tak terlupakan karena bukan sesuatu yang biasa perempuan single duduk manis di ruang tunggu klinik ginekologi :).  Dari dulu kalau ke dokter jarang sekali aku ditemani, demikian juga ketika aku periksa ke dokter ginekolog. Di sinilah mulai ada pengalaman-pengalaman menarik.

Ketika dokter yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba, biasanya karena ada yang melahirkan atau operasi, kami pasien di klinik harus menunggu berjam-jam, bahkan pernah menunggu sampai 4 jam. Jika situasi begini, ibu-ibu yang duduk di sebelah kanan atau kiri mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar di klinik ginekolog, yang tak jarang perlu waktu beberapa saat untuk aku jawab:
  • "Anak ke berapa?"
  • "Udah berapa bulan?"
  • "Anak pertama ya, mbak?" (PD sekali ya yang bertanya)
Reaksiku pertama biasanya senyum dulu (karena agak bingung gimana jawabnya) baru jawab. Biasanya si ibu segera minta maaf setelah mendengar jawabanku bahwa aku belum menikah dan aku ke dokter untuk terapi kista. Dan biasanya percakapan berlanjut dengan menanyakan sakitku, kadang kalau lagi nggak males ngobrol aku ladeni. Tapi kalau lagi nggak mood ngobrol, apalagi menceritakan penyakitku pada orang yang baru ketemu, biasanya aku yang mengambil alih peran jadi juru bertanya, aku yang mengajukan pertanyaan. Trik ini biasanya behasil, karena mereka akan dengan semangat menceritakan tentang kehamilan, anak dan keluarga. Trik lain yang aku lakukan khususnya kalau lagi males ngobrol: pake headset, ndengerin lagu dan baca buku, dijamin aman dari sesi tanya-jawab :D. 

Ketika operasi laparoskopi aku ke klinik Permata Hati, RSUP Dr Sardjito yang merupakan klinik infertilitas. Di Jogja hanya di klinik tersebut yang bisa melakukan laparoskopi kandungan dengan dokter yang berpengalaman dan  biaya yang lebih murah dibandingkan klinik lain. Pasien-pasien yang datang ke klinik ini kebanyakan adalah mereka yang sudah menikah lama dan belum dikaruniai anak. Maka daftar pertanyaan standar pun bertambah:
  • "Sudah menikah berapa lama?"
  • "Mau program (punya anak) ya?"
  • "Mau program bayi tabung?"
Apa pun pertanyaannya, jawabannya sama, "Saya belum menikah." Well, menarik melihat perubahan paradigma dari ibu-ibu ini. Awalnya mereka berpikir hanya perempuan yang sudah menikah dan hamil yang ke dokter kandungan. Setelah tahu bahwa ada perempuan single yang periksa ke dokter kandungan, reaksi mereka pun berbeda-beda, ada yang merasa bersalah sampai berkali-kali minta maaf, ada yang kasihan, menunjukkan rasa iba dan berusaha menghibur, ada juga yang ingin tahu lebih banyak. Awalnya ada perasaan nggak nyaman berada di situasi ini, tapi lama-kelamaan terbiasa. Bahkan akhirnya ada perasaan senang bisa berbagi informasi seputar kesehatan reproduksi dan aku pun belajar dari para ibu hamil.

Kisah-kisah menarik perjuangan para ibu untuk mendapatkan momongan membuatku kagum. Ada yang sudah menikah lama, 7-10 tahun, mereka periksa ke dokter di berbagai klinik, terapi alternatif dan mengeluarkan biaya belasan bahkan puluhan jutaan rupiah untuk bisa mendapatkan keturunan. 

Ada seorang ibu yang berbagi cerita, mendapat anak pertama melalui program bayi tabung setelah 7 tahun menikah. Anak pertama udah 2 tahun dan sekarang ingin program bayi tabung lagi untuk anak kedua. Ada ibu lain yang dengan sedih bercerita tuba falopii yang kiri tersumbat karena kelainan bawaan, sehingga hanya ovarium kanan yang berfungsi. Dia dan suami sangat ingin punya anak, dan berharap program hamil berhasil.

Aku jadi tahu kalau pasangan sudah menikah 1 tahun, berencana segera punya anak tapi belum ada tanda-tanda kehamilan, sebaiknya periksa ke dokter. Ini untuk tahu penyebabnya, apakah gangguan reproduksi dari suami atau istri, baru kemudian ada tindakan, dan mulai program hamil dengan terapi obat. Pilihan terakhir adalah program bayi tabung. Anak memang tidak ternilai harganya, tidak bisa diukur dengan uang. Berapa pun biaya akan dikeluarkan demi untuk mendapat keturunan.

Ternyata aku banyak belajar dari ngobrol-ngobrol di ruang tunggu klinik ginekolog: perubahan paradigma, kisah-kisah dari ibu hamil dan mereka yang sedang berjuang untuk melahirkan anak serta pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.

  

Kamis, 14 Agustus 2014

Si Abah, Teman Seperjalanan di Kereta


Suatu hari dalam perjalanan kereta dari Jogja ke Surabaya, aku duduk di sebelah seorang laki-laki, mungkin usianya sekitar 70an. Si Bapak mengenakan baju serba hitam, berpeci, 3 buah cincin dengan batu akik warna-warni terlihat mencolok di jari-jari tangan kiri, dan sebuah gelang besar terbuat dari tulang melingkar di pergelangan tangan kiri. Rambut panjang sebahu dan jenggot semakin menambah seram penampilan si Bapak tua.

Awalnya ketika melihat si Bapak dan sadar bahwa aku akan duduk di sebelahnya, ada rasa kuatir dan agak takut. Penampilannya yang menyeramkan membuatku berpikir jangan-jangan Bapak ini orang jahat. "Turun mana?", tanya si Bapak dengan senyum dan logat Sunda yang kental. "Oh...saya turun Surabaya", jawabku dengan agak ragu."Kalau gitu Abah duduk di sini aja, Abah turun Solo, kan dekat". Sambil mempersilahkan aku duduk dekat jendela, Abah berpindah tempat duduk dan  memindahkan tasnya yang besar. Sejak saat itu mulailah percakapan di antara aku dan si Abah. Suasana mulai mencair karena rasa takutku mulai memudar.

Si Abah mulai bercerita tentang pekerjaannya, penjual batu akik. Bapak asal Garut ini biasanya berjualan di Jalan Malioboro Jogja atau di Solo, kadang juga sampai Pasar Turi Surabaya. Nggak heran kalau bawaannya tas besar dan berat, kata Abah tasnya kira-kira 18 kg, wah berat juga ya. Untung tas Abah ada rodanya, jadi nggak berat bawanya. Percakapan dimulai dengan tanya jawab tentang batu akik, jenis dan asalnya. Batu apa yang paling banyak peminat. Jualan Abah bervariasi dari batu asal Indonesia sampai batu impor. Yang paling banyak dicari dan yang kualitas bagus adalah batu impor. "Yang dari sini biasa aja. Kalau orang sudah suka batu akik, berapa pun harganya dibeli", si Abah menjelaskan.

"Abah jualan akik sejak tahun 62. Sekarang sebenernya udah nggak boleh jualan sama anak Abah, disuruh istirahat di rumah aja. Tapi Abah mah nggak betah diem di rumah." Terus aku tanya, "Lha ini kok Abah jualan? Boleh sama anaknya?" Si abah kemudian melanjutkan berkisah tentang keluarganya. Anak Abah 2, yang laki-laki seorang tentara bertugas di Jakarta, yang perempuan polwan di Bandung. Kalau anaknya mau pulang ke Garut, terutama kalau anak laki-lakinya mau pulang, Abah pun segera pulang kampung, duduk manis di rumah atau mancing di belakang rumah, sehingga kalau anaknya pulang, dia senang melihat Abah santai di rumah. Begitu si anak kembali ke Jakarta atau Bandung, si Abah pun segera mulai jualan lagi, biasanya naik kereta ke Jogja atau Solo. Pernah satu kali, anak yang laki-laki tiba-tiba pulang dan mendapati Abah nggak di rumah. Si anak mencari sampai ke Jogja dan Abah langsung dibawa pulang ke Garut. "Sekarang anak-anak sibuk, yang laki udah Brigjen, yang perempuan Kapolsek di Bandung. Mereka udah nggak sempat cari Abah. Asal Abah di rumah waktu mereka pulang ke Garut, aman", tutur Abah sambil senyum-senyum. Si Abah kelihatan begitu menikmati pekerjaannya tapi juga sekaligus kelihatan bangga dengan kedua anaknya dan mencintai mereka.

Sebuah percakapan singkat sepanjang perjalanan Jogja-Solo tapi jadi percakapan yang berkesan. Si Abah berjuang berjualan batu akik dari satu kota ke kota lain, membesarkan kedua anaknya sampai mereka berhasil. Si Abah yang berpenampilan seram ternyata seorang bapak yang luar biasa yang mencintai keluarga dan pekerjaannya. Tetap sehat ya, Abah. 




Minggu, 03 Agustus 2014

Laparoscopy for a Better Quality of Life


Suatu hari ketika cuti pulang ke Jogja, September 2013, aku menemui dokter kandungan untuk cek. Setengah tahun terakhir haid terganggu, siklusnya sih teratur, tapi semakin sakit, banyak dan lama. Tahun 2007 pernah ada kista di kedua ovarium dan sudah dinyatakan sembuh setelah terapi hormon. Ternyata kekuatiranku beralasan, dari hasil USG dokter menemukan kista tumbuh lagi di kedua ovarium dan tampak juga miom meski masih kecil. Kista di ovarium kiri hampir 5 cm, sedangkan yang di kanan lebih kecil ukurannya. Dokter menyarankan untuk wait and see, cek 3 bulan lagi. Ada rasa sedih dan kuatir karena harus menghadapi penyakit yang sama, tetapi memang nggak sesedih dan panik ketika tahun 2007. Berbagi cerita dengan keluarga dan teman-teman dekat membantu mengurangi rasa sedih dan kekuatiranku. Aku pun kembali ke tempatku bekerja di Surabaya.

Setelah 3 bulan aku menemui dokter kandungan di Surabaya, hasil USG menunjukkan ukuran kista dan miom membesar. Dokter memberikan painkiller dan memintaku untuk cek 3 bulan lagi. Setiap kali datang bulan semakin sakit, perut harus dikompres pakai heating pad, minum painkiller dan nggak masuk kerja. Kadang kalau lagi kesakitan banget, aku sampai nangis sendirian di kamar. Aku bukan orang yang suka menunjukkan rasa sakit, jadi kalau lagi di kantor atau lagi ngajar, rasa sakit aku tahan, setelah sampai di kamar baru nangis. Semakin lama rasa sakit datang tidak hanya menjelang dan sewaktu haid saja, tapi juga di hari-hari lain, sakitnya kadang tiba-tiba datang dan pergi. Setiap BAB pasti mengalami kesakitan di perut bawah, meski hanya beberapa detik tapi cukup mengganggu. Yang paling mengganggu adalah ketika sedang mengajar di kelas, tiba-tiba kram perut datang menyerang.

Tanpa diduga aku dipindahtugas ke tempat kerja dekat rumah. Ini sangat membantu karena ini berarti aku tidak perlu menempuh 14 km untuk pergi ke kantor. Sekarang hanya perlu waktu 10 menit untuk ke kantor. Aku bisa menghemat energi dan tentu saja biaya transportasi.

Belum genap 3 bulan, aku kembali menemui dokter, karena sakit yang semakin mengganggu dan obat penahan sakit dari dokter sudah habis. Dokter menyarankan untuk operasi laparoskopi karena sakitnya yang semakin mengganggu, belum lagi tekanan darah tinggi karena menahan sakit. Saat itu tekanan darahku 150/100. Dokter mengatakan kalau operasi kista dan miom diangkat dan endometriosis dibersihkan. Kemudian aku mulai mencari informasi tentang laparoskopi.

Laparoskopi adalah teknik bedah invasif minimal yang menggunakan alat-alat berdiameter kecil untuk menggantikan tangan dokter melakukan prosedur bedah di dalam rongga perut. Kamera mini digunakan dengan terlebih dahulu dimasukkan gas untuk membuat jarak pemisah antara rongga sehingga dapat terlihat dengan jelas. Dokter melakukan pembedahan dengan melihat layar monitor dan mengoperasikan alat-alat tersebut dengan kedua tangannya. Keuntungan teknik laparoskopi antara lain, kerusakan jaringan lebih ringan, nyeri pasca operasi lebih ringan, lama perawatan lebih singkat, resiko infeksi lebih kecil, sisi kosmetik lebih baik karena sayatan yang minimal, serta masa recovery yang lebih cepat. Tidak semua dokter kandungan bisa melakukan laparoskopi dan tidak semua rumah sakit punya fasilitas laparoskopi untuk kandungan.

Aku mengambil cuti dan pulang ke Jogja. Keluarga besarku tinggal di Jogja, jadi aku merasa lebih nyaman kalau operasi di kampung halaman. Pertimbangan lain adalah biaya operasi di Jogja lebih murah daripada di Surabaya.

Mulailah pencarian berikutnya dengan mencari second opinion di beberapa dokter dan rumah sakit. Atas saran salah satu dokter aku menemui dr Shofwal Widad, SpOG di Klinik Permata Hati, RSUP Dr Sardjito. Dr Widad teliti menanyakan keluhan yang ada, sabar, pendengar yang baik dan berpengalaman dalam melakukan laparoskopi. Setelah diskusi dan meminta pertimbangan kakak-kakak, akhirnya diputuskan untuk operasi. Jadwal operasi yang padat membuatku harus menunggu 1 bulan. Ini memberi waktu untuk memikirkan bagaimana cara mencukupkan biaya operasi yang menurut perkiraan belasan juta rupiah. Tidak ada kerjasama antara asuransi kantor dengan RS Dr Sardjito, jadi aku harus bayar sendiri dulu baru nanti reimbursement, itu pun tidak tahu berapa yang akan dicover oleh pihak asuransi. Bersyukur tabungan, bantuan teman dan saudara,  pinjaman dari kakak dan kantor tempatku bekerja cukup untuk biaya operasi.

Dua minggu sebelum operasi, nyeri haid tidak tertahankan, kehabisan painkiller, waktu itu aku ijin nggak masuk kerja, di kos sendirian karena teman-teman udah berangkat kerja, mbak yang biasanya bantu di rumah pas ijin nggak masuk, aku pun ke IGD RS naik taksi. Setelah mendapat stronger painkiller, baru rasa sakitnya berkurang. Karena menahan sakit tekanan darahku saat itu sampai 170/100. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.

Seperti yang direncanakan, operasi laparoskopi dilaksanakan pada hari Jumat, 4 April 2014 jam 13:00 WIB. Persiapan dan operasi berjalan dengan baik dan lancar. Selama operasi keluarga disediakan ruang tunggu dan bisa menyaksikan jalannya operasi melalui layar TV. Salah seorang kakak dan keponakan bergantian merekam selama operasi. Ternyata aku cukup punya keberanian untuk menonton rekaman jalannya operasi, jadi paham apa yang dilakukan dokter selama operasi. Aku tidak keberatan jadi objek pembelajaran buat om, tante, kakak, keponakan dan sepupu. Jadi tahu apa itu rahim, ovarium, bagaiamana bentuk kista, miom dan bagaimana proses operasi laparoskopi. Operasi berlangsung selama 2 jam. Ketika sadar dari pengaruh obat bius, bekas operasi tidak terlalu terasa sakit, memang terasa nyeri tapi nggak sampai membuatku kesakitan, mungkin juga karena obat-obat yang diberikan cukup kuat sehingga bisa mengatasi rasa sakit pasca operasi.  Menurutku justru lebih sakit ketika nyeri haid dan jauh lebih sakit ketika dulu operasi operasi usus buntu tahun 2000. Yang jelas ada perasaan lega karena sumber sakitnya sudah diangkat. Diagnosa dokter setelah operasi endometriosis stage IV, kista ovarium, mioma uteri dan adenomiosis. Hasil uji patologis mengkonfirmasi diagnosa kista endomrtriosis dan mioma uteri. Dengan kondisi ini, dokter mengatakan aku perlu menjalani terapi hormon, Tapros, via injeksi 4 kali kemudian dilanjutkan  dengan terapi dengan minum obat hormon, Visanne, untuk jangka panjang.

Untuk tahu lebih jauh tentang diagnosa penyakitku, berikut ini penjelasan singkatnya:
  • Endometriosis: Tumbuhnya jaringan endometrium di luar rahim, misalnya di ovarium, usus haus, usus besar, bahkan bisa juga di paru-paru. Dalam operasi, tingkat keparahan endometriosis dinilai dan dibagi menjadi 4 stage, dari yang paling ringan yaitu Stage I sampai yang parah dan sudah meluas (Stage IV).
  • Kista Ovarium: Kantung yang biasanya berisi cairan yang berkembang dalam indung telur, kebanyakan jinak. Salah satu contohnya kista endometriosis. Ukuran kista tidak selalu berkaitan langsung dengan tingkat rasa sakit yang diderita. Ukuran kista kecil, tapi sakitnya bisa jadi luar biasa, sebaliknya kistanya besar tapi bisa jadi tidak terasa sakit. 
  •  Mioma Uteri: Tumor jinak pada dinding rahim.
  • Adenomiosis: Kondisi dimana jaringan endometrium tubuh di dalam lapisan tengah rahim (miometrium). Adenomiosis sering salah didiagnosis sebagai mioma uteri, karena dari hasil USG hampir sama. Bedanya adenomiosis bentuknya tidak beraturan dan batasnya tidak jelas seperti miom. Adenomiosis sulit diatasi dengan operasi karena jaringan tumbuh di lapisan tengah rahim. Ada satu teknik yang bisa yaitu teknik Osada, tetapi saat ini belum bisa dilakukan di Indonesia.


Pemulihan pun berjalan dengan baik. Kira-kira 1 minggu setelah operasi, aku udah naik motor, 10 hari setelah operasi aku sudah kembali bekerja. Praktis tidak ada keluhan yang berarti selama masa pemulihan. Terapi hormon dengan Tapros sudah selesai aku jalani, meski harga obat mahal (1,6-1,9 juta). Tinggal menjalani terapi hormon jangka panjang untuk mencegah kista dan miom tumbuh lagi, menghambat meluasnya endometriosis serta mengurangi keluhan dari adenomiosis. Pihak asuransi kantor mengcover hampir seluruh biaya operasi, dari 16 juta dicover 14 juta.

Kalau ada di antara teman-teman yang mengalami nyeri haid yang sampai mengganggu aktivitas, sebaiknya cek ke dokter. Cari dokter yang sabar, teliti dan mau mendengarkan keluhan kita, serta berpengalaman dalam menangani kasus gangguan reproduksi perempuan. 


Sekarang aku bisa bekerja dengan baik, nggak sering ijin sakit dan beraktivitas normal. I feel great. After laparoscopy surgery my quality of life is better.

Sapaan Di Pagi hari Yang Menyejukkan Hati

Sebagai anak kos yang nggak bisa dan nggak suka masak, aku sering beli makan di warung, kedai atau restoran. Ada sebuah warung makan di dekat rumah, langgananku setiap hari Sabtu. Kalau hari Sabtu aku ke kantor lebih awal, sekitar jam 8 atau 9, tempat makan di mall tempatku bekerja belum buka, jadi biasanya aku beli makan di warung itu. Nama warungnya Yestoya, kepanjangannya YESus TOlong saYa. Menarik kan?

Yang menarik bukan saja nama warungnya tetapi juga tante yang jualan di warung. Seorang wanita usia 50an yang ramah kepada semua pembeli. Suatu pagi, saat sedang antri, ada seorang ibu tua yang ikut antri, dari barang-barang yang dibawa kita tahu bahwa si ibu tersebut adalah seorang pemulung. Setelah si ibu ini ada seorang ibu lain datang untuk beli sarapan, dia datang pakai mobil dan kelihatan terburu-buru minta segera dilayani. Si tante pemilik warung dengan senyum berkata, “Sebentar ya saya melayani ibu ini dulu”. Ketika si ibu pemulung mau membayar, si tante menolak dengan halus, “Udah nggak usah”.

Si tante melayani setiap pembeli dengan ramah, tidak pandang si pembeli datang jalan kaki, naik motor atau naik mobil, pemulung atau orang kaya, semua dilayani dengan ramah dan senyum. Setiap kali selesai melayani pembeli, dua kalimat yang selalu diucapkan, “Terimakasih. Tuhan berkati”. Sejuk terasa di hati mendengarnya. Coba bandingkan ketika kita belanja di mini market, biasanya penjaga toko berkata, “Terimakasih. Silahkan berbelanja kembali”.

Selama Warung Yestoya dekat rumah masih buka, aku akan jadi pelanggan setia. Karena setiap kali beli sarapan aku dapat bonus, diingatkan bahwa Tuhan memberkati kita J.


Surabaya, 3 Agustus 2014

Jumat, 31 Januari 2014

Catatan Seorang Tionghoa Indonesia

Setiap kali perayaan Imlek saya tidak pernah merasa 100% merayakan. Waktu kecil yang saya tahu hanya makan kue keranjang setiap kali merayakan Imlek, kadang dapat angpao juga tapi tidak selalu. Meskipun darah Tionghoa lebih kental, kalau nggak salah hanya nenek dari papa dan nenek buyut dari mama yang orang Jawa, saya lebih merasa orang Jawa. Mungkin karena budaya Tionghoa tidak terlalu dilestarikan dalam keluarga dan budaya Jawa yang lebih dikenal. Satu-satunya yang membuat kami merasa orang Tionghoa adalah bagaimana kami memanggil satu sama lain: "cik, koh, ik, wak, tio, mak, engkong".

Dari lima bersaudara, 3 anak punya nama Tionghoa. Kakak nomor empat dan saya tidak punya nama Tionghoa. Mama dan papa mau praktis, tidak perlu mengurus surat ganti nama dan berharap ini akan mempermudah hidup kami. Nyatanya waktu mendaftar di universitas, saya dianggap tidak bisa melengkapi syarat registrasi. Tercatat sebagai warga keturunan bukan pribumi, saya harus menyerahkan surat ganti nama, lah......nama Tionghoa aja nggak punya apalagi surat ganti nama?? Setelah mama datang ke kampus dan sempat bersitegang dengan petugas pendaftaran akhirnya saya lulus administrasi pendaftaran. Ini satu-satunya pengalaman diskriminasi yang saya rasakan.

Secara fisik, saya tidak terlihat sebagai orang Cina, mata nggak sipit, kulit yang nggak putih serta aksen Jawa Jogja yang kental. Pengalaman-pengalaman menarik pun terjadi. Saya tertawa dalam hati ketika teman-teman asyik berkomentar, "Orang Cina itu ya pelit-pelit", "Orang Cina itu sombong, nggak mau bergaul salam kita", "Dasar wong Cino!" Ketika sedang jalan dengan seorang teman yang bermata sipit, berkulit putih (padahal dia 100% orang Jawa), para penjual menyapa dia, "siang cik, mau beli apa, cik? Ini murah lho cik?".  Saya senyum-senyum melihatnya. "Kamu yang Cina, aku yang dipanggil cik." Hahahaha....maaf ya mbak, saya Cina yang menyamar :D.

Mama, papa, om, tante bisa berbicara bahasa Jawa dengan baik, bahkan ada yang bisa berbahasa Jawa halus. Mama dulu sempat belajar di sekolah Tionghoa, jadi bisa berbicara bahasa Tionghoa, tapi kami anak-anaknya nggak pernah diajarin. Waktu kecil, kalau mama ngomong bahasa Tionghoa kami mengganggap mama sedang membicarakan kami atau hal-hal rahasia yang kami tidak boleh tahu ;).  Sekarang keponakan-keponakan yang belajar bahasa Mandarin, bahkan mereka bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Mandarin. Setidaknya ada keturunan dalam keluarga kami yang belajar budaya nenek moyang.

Meski tidak tahu banyak budaya Tionghoa, bagaimanapun saya tetap bangga dan bahagia jadi orang Tionghoa Indonesia. Gong Xi Fa Cai !!!

Minggu, 21 Juli 2013

Taat, Belum Pasti Selamat


Suatu pagi saya melintasi sebuah jalan besar dengan sepeda motor. Lampu merah menyala di zebracross, saya pun berhenti untuk memberi kesempatan seorang ibu yang akan menyeberang jalan. Ternyata saya satu-satunya pengendara yang berhenti. Mobil, sepeda motor yang lain tidak ada yang berhenti, bahkan tidak sedikit yang tetap melaju kencang. Si ibu pun berlari-lari menyeberang jalan, menghindari tertabrak. Saya pun sempat hampir tertabrak pengendara lain. Untunglah si ibu akhirnya bisa menyeberang dengan selamat. Ternyata orang yang taat peraturan lalu lintas, bukan berarti keselamatannya pasti terjamin.

Rabu, 05 September 2012

Yang Penting Senang

Suatu hari saya mampir di sebuah mini market. Ada sesuatu yang menarik perhatian ketika saya memarkir motor. Di teras mini market tersebut ada 4 orang anak muda, 3 cowok dan 1 cewek. Kalau dilihat dari penampilan luarnya, mereka kelihatannya dari Papua. Belasan botol minuman keras berserakan di bawah meja dan kursi di sekitar mereka. Sambil ngobrol dan tertawa-tawa, masing-masing menikmati minuman keras dan merokok, tidak tahu pasti apakah mereka mabuk atau tidak.

Dalam waktu singkat mereka menjadi pusat perhatian. Mini market tersebut terletak di pinggir jalan besar, kendaraan lalu lalang dan pembeli di tempat itu pun tidak sedikit. Tidak sedikit mata tertuju pada mereka dan apa yang mereka lakukan.

Saya prihatin dengan kejadian yang saya lihat ini. Orang-orang muda ini hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Mungkin orangtua mereka membanting tulang, bahkan mungkin hutang sana sini untuk membiayai studi mereka supaya mereka punya masa depan yang lebih baik. Harapan ini menjadi jauh dari kenyataan ketika mereka melakukan apa saja yang membuat mereka senang, mabuk-mabukan, main game tak kenal waktu dll. Pikirkan tidak hanya yang membuatmu senang tapi apa yang penting buat hidupmu dan masa depan.