Rabu, 05 September 2012

Yang Penting Senang

Suatu hari saya mampir di sebuah mini market. Ada sesuatu yang menarik perhatian ketika saya memarkir motor. Di teras mini market tersebut ada 4 orang anak muda, 3 cowok dan 1 cewek. Kalau dilihat dari penampilan luarnya, mereka kelihatannya dari Papua. Belasan botol minuman keras berserakan di bawah meja dan kursi di sekitar mereka. Sambil ngobrol dan tertawa-tawa, masing-masing menikmati minuman keras dan merokok, tidak tahu pasti apakah mereka mabuk atau tidak.

Dalam waktu singkat mereka menjadi pusat perhatian. Mini market tersebut terletak di pinggir jalan besar, kendaraan lalu lalang dan pembeli di tempat itu pun tidak sedikit. Tidak sedikit mata tertuju pada mereka dan apa yang mereka lakukan.

Saya prihatin dengan kejadian yang saya lihat ini. Orang-orang muda ini hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Mungkin orangtua mereka membanting tulang, bahkan mungkin hutang sana sini untuk membiayai studi mereka supaya mereka punya masa depan yang lebih baik. Harapan ini menjadi jauh dari kenyataan ketika mereka melakukan apa saja yang membuat mereka senang, mabuk-mabukan, main game tak kenal waktu dll. Pikirkan tidak hanya yang membuatmu senang tapi apa yang penting buat hidupmu dan masa depan.

Senin, 20 Agustus 2012

Leadership


I got these leadership quotes from my former director in 2008. My beloved country, Indonesia, is lack of qualified leaders now, therefore I share quotes about leadership to open our mind. Let's be leaders anywhere we are. Personally I am always willing to learn to be a better leader.

  1. Leadership is courage to put oneself at risk.
  2. Leadership is the passion to make a difference with others.
  3. Leadership is being dissatisfied with the current reality.
  4. Leadership is taking responsibility while others are making excuses.
  5. Leadership is seeing the possibilities in a situation while others are seeing the limitations.
  6. Leadership is the willingness to stand out in a crowd.
  7. Leadership is an open mind , an open heart.
  8. Leadership is the ability to submerge your ego for the sake of what is best.
  9. Leadership is evoking in others the capacity to dream.
  10. Leadership is inspiring others with a vision of what they can contribute.
Yogyakarta, 20 Agustus 2012

Jumat, 03 Agustus 2012

Ramah atau Marah???

Indonesia terkenal karena orang-orangnya yang sopan, suka tersenyum dan membantu. Orang-orang asing yang datang ke Indonesia mengatakan demikian. Dari jaman sekolah dulu saya belajar bahwa nenek moyang kita menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong dan saling membantu. Begitu bangganya saya sebagai bagian dari orang Indonesia yang terkenal karena nilai-nilai positif.

Namum demikian, apa yang terjadi akhir-akhir ini seakan mengobrak-abrik rasa bangga saya sebagai orang Indonesia. Tawuran semakin marak di berbagai tempat, yang kalau ditelusuri sebabnya seringkali tidak jelas bahkan ada juga yang karena termakan gosip, terpancing emosi dan kekerasan pun dijadikan pilihan tanpa mencari bukti dahulu. Bukan hanya anak-anak sekolahan yang notabene masih muda dan dianggap masih labil secara emosi, yang tua pun nggak mau ketinggalan menyuburkan benih-benih kekerasan. Perang antar suku dan antar kampung pun semakin marak.

Beberapa waktu lalu ada berita seorang pencuri motor terluka parah akibat dihakimi massa. Dimana rasa kemanusiaan bangsa ini? Tindakan mencuri bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan dan siapa pun yang mencuri harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tetapi memukuli dan menghajar seseorang, bahkan terhadap seorang  pencuri sekalipun, menunjukkan bahwa mereka yang melakukan tindak kekerasan itu tidak lebih baik dari si pencuri.

Lebih menyedihkan lagi, seorang anak putus sekolah dituduh mencuri uang Rp25,000. Dia ditangkap, dipukuli, ditendang, ditampar bahkan diarak keliling kampung, diikat di tiang listrik dan terus dianiaya sampai akhirnya dia meregang nyawa. Apakah uang Rp25,000 sebanding dengan nyawa si bocah?

Kemudian ada kelompok masyarakat yang mengancam dan melakukan tindak kekerasan jika menganggap nilai-nilai yang mereka anut dilanggar. Di sisi lain, pihak kepolisian terkesan tidak berdaya menghadapi ancaman yang dilontarkan dan kekerasan yang mereka lakukan. Ini adalah pembiaran terhadap kekerasan.

Jujur, saya sangat prihatin dengan kondisi ini. Kekerasan seakan-akan bisa jadi jawaban atas suatu masalah dan cara untuk pemaksaan kehendak. Ada yang harus diperbaiki dalam pendidikan moral dan budi pekerti di keluarga, sekolah dan masyarakat.

Anak-anak sekarang sudah terbiasa dengan main game, nonton film dan program televisi yang berbau kekerasan. Ini harus jadi perhatian semua pihak. Orangtua, guru, tokoh masyarakat, toko agama, dan setiap orang yang mencintai bangsa ini, mari kita bekerja sama melawan kekerasan. Jangan biarkan benih-benih kekerasan tumbuh di sekitar kita. Siapa pun kita, apa pun pekerjaan kita.....merupakan tanggung jawab kita untuk menebarkan dan menumbuhkan benih-benih kedamaian.

Lembaga pemerintah maupun swasta, lembaga agama dan pendidikan, penegak hukum, perusahaan, mari melandaskan organisasi kita dengan prinsip-prinsip moral dan budi pekerti, buatlah sistem yang meminimalkan celah terhadap terjadinya kekerasan.

Jadilah bangsa yang terkenal karena keramahannya bukan karena kemarahannya.



Senin, 04 Juni 2012

Hey Pak Polisi!

Suatu siang, di sebuah perempatan tampak sebuah mobil polisi berhenti di lampu merah. Mobil berhenti melewati marka jalan. Setelah beberapa waktu, Pak Polisi mengeluarkan telepon genggam dan menelpon. Lampu pengatur lalu lintas hijau dan Pak Polisi pun tancap gas sambil menelpon. "Hmmmmm mau jadi apa negeri ini kalau semua polisi seperti Bapak?  Sebagai penegak hukum tetapi kok Bapak sendiri yang melanggar hukum?"

Jika Tuhan Memanggilku

Umur manusia tidak ada yang tahu sampai kapan. Bahkan orang yang paling cerdas dan bijaksana di bumi ini tidak bisa memastikan. Seorang dokter bisa memperkirakan umur pasien yang sakit parah, tetapi tetap saja dia tidak bisa memastikan.

Jika Tuhan memanggilku, ada dua hal yang aku inginkan:
  • Tidak menyusahkan keluarga dan orang lain. Jika boleh aku meminta, aku pergi tanpa merepotkan keluarga dan orang lain, enggak pake sakit yang berlarut-larut, lama dirawat di rumah sakit atau pikun yang merepotkan orang lain. Aku ingin pergi dengan cepat dan tenang.
  •  Berdamai dengan orang-orang yang pernah sakit hati karena aku. Sebelum Tuhan panggil aku tidak ada orang yang masih sakit hati denganku dan tidak ada sakit hati dalam diriku juga. Jika boleh meminta, aku ingin bertemu dengan mereka yang belum berdamai denganku, menyampaikan ungkapan maafku secara langsung dan pergi dalam damai. Jika mereka Tuhan panggil lebih dulu, aku juga ingin bisa berkesempatan bertemu dan berdamai sebelum mereka pergi.
Tuhan.....inilah permohonanku. Jadilah kehendakMu bukan kehendakku.

Amin.

Senin, 14 Mei 2012

Sebuah Perbincangan di Parkiran Gereja

Suatu sore di parkiran sebuah gereja, seorang ibu dan anak akan meninggalkan parkiran. Kelihatannya mereka baru saja memeriksakan diri di klinik pengobatan gratis yang rutin diadakan oleh gereja tersebut.

Terjadilah perbincangan singkat antara si anak laki-laki yang berumur kira-kira 8 tahun dengan ibunya:
Anak: "Bu, ini gereja ya?"
Ibu   : "Iya, ini gereja.". 
Anak: "Kalo gitu ada pastornya ya?"
Ibu   : "O bukan. Yang ada pastornya itu gereja Khatolik. Kalau ini gereja Protestan, adanya 
            pendeta."
Anak: "Oooooo....."

Sebuah pembicaraan singkat yang menggambarkan bagaimana si ibu menjelaskan pluralitas bangsa kita Indonesia. Si ibu yang berjilbab menjelaskan bahwa ada orang Muslimn seperti mereka, ada juga orang Kristen Khatolik dan Kristen Protestan, orang Khatolikdan Protestan sama-sama ke gereja yang satu ada pastornya yang satunya ada pendeta. Si ibu juga merasa tidak ada masalah dengan itu, karena si ibu dan si anak baru saja berobat di klinik pengobatan gratis yang diadakan oleh gereja.

Nilai-nilai pluralitas perlu diajarkan ke generasi penerus bangsa Indonesia supaya anak bangsa ini saling menerima dan menghargai perbedaan. Negara kita ini lahir dari pluralitas, dari suku, bahasa, agama, dan adat istiadat yang berbeda lahirlah INDONESIA.

Minggu, 22 April 2012

Sahabatku, engkau selalu di hatiku

Sahabat buatku adalah seseorang yang spesial, bahkan terkadang jadi lebih dekat daripada keluarga. Ada hal-hal yang tidak diceritakan ke keluarga, tetapi aku share ke sahabat.


Kehilangan sahabat karena dia dipanggil Tuhan itu menyedihkan. Ketika seorang sahabatku dipanggil Tuhan karena kanker, aku merasa kehilangan teman curhat, penasehat dan seseorang yang selalu memberi support. Rasanya seperti sebagian dari diriku ikut hilang.

Kemudian hadir sahabat lain yang hadir dalam hidupku. Aku bersyukur untuk dia yang jadi teman ngobrol dan bertengkar.


Tetapi kemudian dia yang dulu dekat, terasa jauh, aku terus mencoba untuk berkomunikasi. Dan semakin aku berusaha, semakin terasa dirimu menjauh. Aku tidak pernah dengan sengaja menyakitimu. Tapi kalau aku sudah menyakitimu, maafkan diriku. Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi harapanmu. Kehilangan sahabat kali ini rasanya lebih hebat lagi, sebagian nyawa dan semangat hidupku terasa menguap.....terasa hampa dan kosong sampai2 aku langsung mencari seseorang untuk jadi konselorku.

Aku juga pernah sakit hati karenamu tapi itu sudah jadi bagian dari masa lalu, dan aku sudah memaafkanmu. Aku tetap rindu berhubungan baik denganmu, sama sekali tidak ada dendam.

Doaku suatu saat nanti hubungan yang rusak ini dipulihkan. Namamu selalu hadir dalam doaku. Aku ingin tetap begitu, tetap setia mendoakanmu. Aku berharap sebelum maut memisahkan kita, kita berdamai.

Sahabatku, engkau selalu di hatiku.







Part of problems or solutions?

"You are either part of problems or solutions"

If employers see employees as part of problems, they will blame their employees when there are problems and focus on mistakes rather than solutions.
If they see employees as part of solutions, they will have discussion with the employees when there are problems and focus on finding solutions rather than scape goat.

If employees see employers as part of problems, they will blame their employers and keep complaining.
If they see employers as part of solutions, they will work without being stressful and talk to the employers to find solutions when they face problems.

If you see someone as part of problems, you will blame him/her for bad things happen to you.
If you see him/her as part of solutions, you will be grateful for the wonderful relationship.

If someone sees you as part of problems, he/she will accuse you
If he/she sees you as part of solutions, he/she will be grateful to have you.

Part of problems or solutions? It's our choice.
Wanna live in war or peace? It's our decision.


Senin, 19 Maret 2012

Hubungan Baik

Akhir-akhir ini aku belajar bahwa hubungan baik itu bukan berarti hubungan yang selalu baik-baik saja. Hubungan baik adalah ketika dua  pihak sama-sama memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, menghadapi serta mengatasi perbedaan pendapat dan konflik dengan baik, belajar dari kesalahan yang bisa mengganggu suatu hubungan dan bukan hanya menikmati kesenangan bersama.

Dalam kita berhubungan dengan orang lain, tidak selalu mulus dan baik-baik saja. Dua pribadi berbeda membawa paradigma, pola berpikir, dan cara hidup yang berbeda yang tentu saja bisa memicu konflik. Belum lagi secara sadar atau tidak, masing-masing kita berbuat kesalahan. Menghindari konflik tidak akan mempertahankan hubungan baik yang lama. Jika ada hal-hal yang mengganjal di hati, segera duduk bersama dengannya, ungkapkan apa yang menjadi ganjalan di hati, bicara dari hati ke hati, minta maaf atas kesalahan atau kesalahpahaman dan dengarkan dengan baik apa yang dia rasakan juga. Jujur adalah dasar dari komunikasi.

Jika setelah dibicarakan tapi dia belum bisa menerima dan berdamai ya itu juga harus dihargai. Setiap orang punya waktu yang berbeda-beda untuk mengatasi konflik dan ini tidak bisa dipaksakan. Yang penting kita beres dan berdamai dengan diri sendiri. Ini akan membuat kita lega dan tetap bersikap baik dengan orang lain. Beri kesempatan orang lain berproses untuk berdamai dengan dirinya.