Ketika naik taksi, beberapa kali saya mengobrol dengan sopir taksi. Kadang-kadang kami ngobrol tentang kondisi lalu lintas, berita aktual sampai suka duka jadi sopir taksi. Ada yang berkeluh kesah tentang susahnya jadi sopir taksi: harus mengejar setoran, dimaki-maki penumpang, atau ketatnya persaingan dengan taksi yang lain. Tetapi ada juga mengungkapkan betapa mereka bersyukur jadi sopir taksi.
Seorang sopir taksi, Pak Tono, menceritakan bahwa sebelumnya dia bekerja di sebuah perusahaan besar dimana dia sering tugas di luar kota. Gaji besar plus insentif dan tunjangan bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Pak Tono menikmati pekerjaannya karena dia juga suka travelling. Suatu hari dia tugas di luar kota cukup lama dan ketika dia pulang ke rumah anak bungsunya tidak mengenali dia. Begitu sampai di rumah si bungsu memanggilnya dengan sebutan "Om". Saat itu dia merasa sangat sedih dan menyesal karena pekerjaannya membuat anaknya tidak mengenalinya sebagai ayah.
Sejak saat itu dia berpikir pekerjaan apa yang sesuai sehingga dia tetap dekat dengan keluarga. Pak Tono sempat minta dipindahtugaskan di bagian administrasi di kantor pusat, tetapi dia tidak nyaman karena tidak bisa menyalurkan kegemarannya travelling. Akhirnya dia mengundurkan dari tempat kerja dan memutuskan untuk menjadi sopir taksi. "Saya sangat menikmati jadi sopir taksi, karena bisa mengatur sendiri jam kerja saya. Kalau perlu, sewaktu-waktu bisa pulang ke rumah walau cuma sebentar. Saya juga bisa travelling keliling kota sambil mengantar para penumpang. Meski gaji tidak sebesar dulu tapi saya bahagia bisa lebih dekat dengan keluarga".
Seorang sopir taksi yang lain, Pak Deden, berkisah kenapa dia menjadi sopir taksi. Dulu dia bekerja di sebuah perusahaan kayu di Kepulauan Riau, tetapi kayu didapat secara ilegal. Pemilik perusahaan tersebut adalah seorang petinggi di jajaran aparat negara. Ketika bertugas mengantar kayu-kayu hasil penebangan liar, dia dan rekan-rekannya pun dibekali senjata api lengkap untuk mencegah para perompak di tengah perjalanan. Setelah beberapa lama Pak Deden menjalani pekerjaan tersebut, hatinya semakin tidak sejahtera, "Saya merasa pekerjaan itu tidak membawa barokah, jadi saya berhenti dan mengadu nasib di ibukota. Akhirnya saya memutuskan jadi sopir taksi. Yang penting pekerjaan ini bisa menghidupi saya dan keluarga. Dan yang lebih penting pekerjaan ini halal".
Ada yang tertarik menjadi sopir taksi??? :)
Apa pun pekerjaan kita, selama pekerjaan itu kita nikmati, tidak merugikan serta membawa kebahagian buat kita dan orang-orang yang kita cintai, kerjakanlah dengan sepenuh hati.
Everyday, we wake up, breathe, experience different things..... It's a miracle...!!
Kamis, 23 Juni 2011
Rabu, 22 Juni 2011
The Beauty of Phuket
Jajanan di pinggir pantai. Hmmmm......yummy
Very beautiful
Sooooo clean
Nice art
Broken English but understandable
Wish to visit Phuket again
Selasa, 21 Juni 2011
Sopir Angkot dan Gadis Cantik
Suatu hari Dina naik angkot. Kemudian dia melihat sesuatu yang berbeda, sopir angkot sangat ramah. Pak Sopir selalu mengingatkan para penumpang untuk berhati-hati setiap ada penumpang yang naik maupun turun. Dia juga selalu menunggu penumpang duduk dengan baik baru dia menjalankan angkotnya.
Tidak berapa lama kemudian seorang gadis cantik naik. Pak Sopir pun menyapa dengan ramah,"Hati-hati, mbak. Awas kepala". Si gadis cantik sedang menelpon sambil naik angkot sehingga tidak menghiraukan Pak Sopir. Dalam waktu kira-kira 3 menit si gadis cantik berbicara di telepon, tidak kurang dari 10 kali kata "Kurang Ajar" terucap dari mulut di gadis cantik. Penumpang yang lain pun melirik si gadis, termasuk Dina.
Dalam hati Dina berkata, "Mbak ini cuma cantik penampilan, tapi kata-katanya nggak cantik, coba berkaca deh sama Pak Sopir ini meski tampang preman tapi kata-katanya sopan". (Jakarta, 30 April 2011)
Pergi ke Luar Negeri untuk...
Selama kira-kira 1,5 tahun saya bekerja di Batam, Kepulauan Riau. Letak Pulau Batam tidak jauh dari Singapura, kira-kira 40 km atau kurang dari 1 jam perjalanan dengan ferry.
Saya mulai mengamati, setiap akhir minggu mall di Batam dikunjungi oleh turis dari Singapura. Biasanya mereka berbelanja di supermarket dan toko kebutuhan rumah tangga. Jadi mereka kembali ke Singapura dengan menenteng tas plastik berisi barang belanjaan. Pemandangan yang tidak biasa saya lihat, orang asing pergi ke negara tetangga untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Mungkin karena barang-barang tersebut lebih murah di Indonesia.
Pada satu kesempatan saya jalan-jalan di Singapura, pada saat masuk ke ferry saya sedikit heran, kok orang-orang membawa koper? Oh mungkin mereka akan menginap beberapa hari di sana, begitu pikir saya. Setelah berjalan-jalan melihat beberapa museum dan sedikit berbelanja saya kembali ke Batam di hari yang sama.
Saya melihat beberapa orang yang tadi pagi bersama saya naik ferry ke Singapura. Rupanya mereka juga kembali ke Batam. Yang membedakan adalah sekarang koper mereka kelihatan penuh dan berat ditambah beberapa tas belanjaan dari toko-toko baju bermerk.
Orang Singapura ke Batam, Indonesia untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari karena harga yang lebih murah. Orang Indonesia ke Singapura untuk belanja baju dan barang-barang yang bermerk dan pastinya lebih mahal. Hmmmmm ada yang aneh.... (Jakarta, 29 April 2011)
Great Friday, Great Love
People say today is Good Friday, but I say it's Great Friday. Jesus has sacrificed his life to be our redeemer. This is something great, not only good. His unconditional love shows how He loves us. He has shown great love in Great Friday. (Jakarta, 22 April 2011)
Jenuh Saat Otak Penuh
Seorang polisi tiba-tiba menjadi begitu terkenal setelah aksi nge-dance and lip-syncdi pos polisi tersebar di youtube. Wartawan media elektronik dan cetak memuat berita menghebohkan ini. Bahkan tawaran main sinetron pun langsung disambut baik oleh Pak Polisi ini.
Selang beberapa waktu kemudian berkat kejelian seorang wartawan foto, tersebar kabar yang tak kalah hebohnya. Di tengah sidang paripurna DPR, seorang anggota dewan asyik menyaksikan video porno.
Keduanya sama-sama merasa jenuh ditengah-tengah menjalankan tugas, tetapi dampak dari tindakan mereka sangat berbeda. Pak Polisi jadi punya banyak penggemar, meski dia mendapat hukuman nge-dance dan nyanyi di depan rekan-rekannya, tapi dia menjalani dengan senang hati. Sebaliknya, Pak Politisi dikecam berbagai pihak sampai dia mengundurkan diri dari anggota DPR dan masih harus siap dengan konsekuensi atas perbuatannya. Karirnya di dunia politik pun terancam hancur.
Setiap orang yang bekerja pasti pernah merasakan jenuh, otak penuh dengan urusan kerja. Apa yang biasanya kita lakukan di saat-saat seperti itu? Melakukan sesuatu yang menyenangkan tanpa melanggar norma-norma yang berlaku atau nekad melakukan apa saja tanpa peduli dampak atas apa yang dilakukan?
Pilihan ada di diri kita masing-masing. Bagaimana kita menjaga integritas kita bahkan di saat kita jenuh bekerja? (Jakarta, 12 April 2011)
Es Krim atau Bunga Es???
Pada waktu aku masih kecil, aku adalah anak yang selalu ingin tahu dan mencari sesuatu yang baru. Suatu hari mama membeli sebuah lemari es baru. Itu adalah lemari es pertama yang kami miliki. Lemari es satu pintu merk national. Sebagai seorang anak yang berusia 5 tahun, aku terpesona dengan barang baru yang ada di rumah.
Lemari es diletakkan di ruang makan. Saat itu hari Minggu, di rumah sedang sepi, papa sedang pergi, mama sedang istirahat. Pelan-pelan aku buka lemari es baru, wuiiiiih dingin........rasanya nyaman berdiri di depan kulkas yang terbuka. Aku buka freezer, "Horeeee, ada es krim begitu pikirku." Nantinya aku baru tahu bahwa itu bukan es krim tetapi bunga es yang ada dalam freezer. Tanpa berpikir panjang langsung aku julurkan lidahku ke dalam freezer, ingin segera menikmati es krim yang nikmat. Tapi apa yang terjadi? Ups, lidahku menempel di dalam freezer begitu kuatnya. Spontan aku menangis dan berusaha berteriak, "Aaaaaaaaaa!!!!!!!!".
Mama terbangun dari tidur siang dan berlari menghampiriku. Mama terkejut melihatku di depan lemari es dengan lidah di menempel di dalam freezer. Karena panik, mama langsung menarik lidahku dan tangisku pun semakin keras. Lidahku berdarah dan mama segera mengambil es batu dan mengompres lidahku untuk menghentikan perdarahan. Setelah kira-kira 1 jam, baru perdarahan berhenti.
Keinginatahuan yang berakibat tangisan dan kesakitan..... Setelah kejadian itu aku tahu bedanya bunga es dan es krim :D. Pengalaman masa kecil yang tak akan pernah aku lupakan. (Batam, 14 Februari 2011)
Lemari es diletakkan di ruang makan. Saat itu hari Minggu, di rumah sedang sepi, papa sedang pergi, mama sedang istirahat. Pelan-pelan aku buka lemari es baru, wuiiiiih dingin........rasanya nyaman berdiri di depan kulkas yang terbuka. Aku buka freezer, "Horeeee, ada es krim begitu pikirku." Nantinya aku baru tahu bahwa itu bukan es krim tetapi bunga es yang ada dalam freezer. Tanpa berpikir panjang langsung aku julurkan lidahku ke dalam freezer, ingin segera menikmati es krim yang nikmat. Tapi apa yang terjadi? Ups, lidahku menempel di dalam freezer begitu kuatnya. Spontan aku menangis dan berusaha berteriak, "Aaaaaaaaaa!!!!!!!!".
Mama terbangun dari tidur siang dan berlari menghampiriku. Mama terkejut melihatku di depan lemari es dengan lidah di menempel di dalam freezer. Karena panik, mama langsung menarik lidahku dan tangisku pun semakin keras. Lidahku berdarah dan mama segera mengambil es batu dan mengompres lidahku untuk menghentikan perdarahan. Setelah kira-kira 1 jam, baru perdarahan berhenti.
Keinginatahuan yang berakibat tangisan dan kesakitan..... Setelah kejadian itu aku tahu bedanya bunga es dan es krim :D. Pengalaman masa kecil yang tak akan pernah aku lupakan. (Batam, 14 Februari 2011)
Konsekuensi
Ina, seorang anak perempuan, usia 8 tahun. Saat itu dia duduk di kelas 3 SD. Suatu hari, guru di sekolah, Bu Sinta, memberikan PR dan berkata kepada murid-muridnya, termasuk Ina, "Anak-anak, PR Matematika adalah halaman 45 latihan 1 dan 2. Kalian kerjakan di rumah dan besok pagi dikumpulkan. Kalau besok tidak mengumpulkan PR, kalian harus berdiri di depan kelas selama 1 jam pelajaran". Bak kelompok paduan suara anak-anak serentak menjawab, "Baik, Bu Guru".
Sesampainya di rumah, Ina langsung asyik bermain dengan teman-temannya. Dia tidak ingat PR dan pesan Bu Guru. Ina memang anak yang aktif dan suka bergaul, dia tidak terlalu suka kalau harus duduk diam dan belajar. Keesokan harinya dia sampai di depan sekolah saat bel berbunyi, dia baru teringat bahwa dia belum mengerjakan PR. Tau apa yang dilakukannya?
Dia masuk ke kelas, duduk dan menunggu Bu Sinta masuk kelas. Kemudian terdengar pintu kelas dibuka. Anak-anak menyambut, "Selamat pagi, Bu guru". "Selamat pagi anak-anak", jawab Bu Sinta. Ina langsung beranjak dari bangkunya, berjalan ke depan kelas dan berdiri di depan kelas, dekat papan tulis. Bu Sinta tertegun dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ina. "Ina, mengapa kamu berdiri di depan kelas?" "Bu, saya lupa nggak ngerjain PR, jadi sekarang saya berdiri di depan kelas." Bu Sinta terdiam sesaat dan berkata, "Baiklah, setelah 1 jam pelajaran kamu boleh duduk. Lain kali ingat mengerjakan PR ya". "Iya, Bu", jawab Ina dengan tenang.
Di dalam hati Bu Sinta berkata, "Anak kecil ini sudah tahu artinya konsekuensi. Ketika dia berbuat kesalahan dia tahu betul konsekuensinya dan bersedia menerima konsekuensi atas kesalahannya".
Mari kita lihat di kehidupan kita sehari-hari, ada orang yang sudah dewasa berbuat salah, menipu, mencuri, atau korupsi. Bukannya sadar akan kesalahan yang sudah diperbuat dan bersedia menerima konsekuensi, tetapi mereka malah menyembunyikan kesalahan mereka, bahkan melarikan diri dari konsekuensi yang harus mereka tanggung.
Belajarlah dari anak kecil ini.
Sesampainya di rumah, Ina langsung asyik bermain dengan teman-temannya. Dia tidak ingat PR dan pesan Bu Guru. Ina memang anak yang aktif dan suka bergaul, dia tidak terlalu suka kalau harus duduk diam dan belajar. Keesokan harinya dia sampai di depan sekolah saat bel berbunyi, dia baru teringat bahwa dia belum mengerjakan PR. Tau apa yang dilakukannya?
Dia masuk ke kelas, duduk dan menunggu Bu Sinta masuk kelas. Kemudian terdengar pintu kelas dibuka. Anak-anak menyambut, "Selamat pagi, Bu guru". "Selamat pagi anak-anak", jawab Bu Sinta. Ina langsung beranjak dari bangkunya, berjalan ke depan kelas dan berdiri di depan kelas, dekat papan tulis. Bu Sinta tertegun dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ina. "Ina, mengapa kamu berdiri di depan kelas?" "Bu, saya lupa nggak ngerjain PR, jadi sekarang saya berdiri di depan kelas." Bu Sinta terdiam sesaat dan berkata, "Baiklah, setelah 1 jam pelajaran kamu boleh duduk. Lain kali ingat mengerjakan PR ya". "Iya, Bu", jawab Ina dengan tenang.
Di dalam hati Bu Sinta berkata, "Anak kecil ini sudah tahu artinya konsekuensi. Ketika dia berbuat kesalahan dia tahu betul konsekuensinya dan bersedia menerima konsekuensi atas kesalahannya".
Mari kita lihat di kehidupan kita sehari-hari, ada orang yang sudah dewasa berbuat salah, menipu, mencuri, atau korupsi. Bukannya sadar akan kesalahan yang sudah diperbuat dan bersedia menerima konsekuensi, tetapi mereka malah menyembunyikan kesalahan mereka, bahkan melarikan diri dari konsekuensi yang harus mereka tanggung.
Belajarlah dari anak kecil ini.
(Batam, 23 Oktober 2010)
Marah
Setiap orang pasti pernah marah dan mengekspresikan marah dengan cara yang bermacam-macam. Ada yang diam sambil pasang muka cemberut, ada yang membanting apa saja yang bisa diraih, ada yang mengungkapkan dengan kata-kata dan nada tinggi bak penyanyi soprano.
Hati-hati mengungkapkan rasa marah kita. Marah sih boleh-boleh saja, asal tidak merugikan dan menyakiti hati orang lain atau bahkan menghambat seseorang untuk berkembang. Seorang teman berkata, "Terlalu sering marah kepada orang lain bisa mengakibatkan orang lain tambah bodoh". Benarkah? Mungkin ada benarnya, kalau seringkali kena marah, seseorang semakin ragu-ragu, takut berbuat salah lagi dan alhasil dia melakukan kesalahan lagi. Ini mengakibatkan orang itu jadi tidak mampu memperbaiki diri.
Selain dari pada itu, orang yang marah akan terkuras energinya, capek bahkan bisa berakibat darah tinggi. Pesan yang akan kita sampaikan mungkin jadi tidak dipahami dengan baik karena orang yang kita marahi keburu ketakutan dan tidak mampu menangkap apa yang kita katakan.
Mari kita tunjukkan rasa marah kita dengan bijaksana. Jelaskan kepada orang yang bersangkutan kenapa kita marah dan bantu dia untuk memperbaiki diri. Kita diberi kemampuan untuk marah oleh Sang Pencipta, pergunakanlah dengan baik. (Batam, 21 Oktober 2010)
Hati-hati mengungkapkan rasa marah kita. Marah sih boleh-boleh saja, asal tidak merugikan dan menyakiti hati orang lain atau bahkan menghambat seseorang untuk berkembang. Seorang teman berkata, "Terlalu sering marah kepada orang lain bisa mengakibatkan orang lain tambah bodoh". Benarkah? Mungkin ada benarnya, kalau seringkali kena marah, seseorang semakin ragu-ragu, takut berbuat salah lagi dan alhasil dia melakukan kesalahan lagi. Ini mengakibatkan orang itu jadi tidak mampu memperbaiki diri.
Selain dari pada itu, orang yang marah akan terkuras energinya, capek bahkan bisa berakibat darah tinggi. Pesan yang akan kita sampaikan mungkin jadi tidak dipahami dengan baik karena orang yang kita marahi keburu ketakutan dan tidak mampu menangkap apa yang kita katakan.
Mari kita tunjukkan rasa marah kita dengan bijaksana. Jelaskan kepada orang yang bersangkutan kenapa kita marah dan bantu dia untuk memperbaiki diri. Kita diberi kemampuan untuk marah oleh Sang Pencipta, pergunakanlah dengan baik. (Batam, 21 Oktober 2010)
Bersyukur
Bersyukur memiliki kekuatan yang luar biasa. Tidak peduli kesedihan yang mendalam atau penderitaan yang berat...ketika kita bersyukur, semuanya lenyap begitu saja. Hidup jadi terasa lebih indah...hati lebih bahagia.
Mari kita bersyukur untuk setiap hal yang kita alami, baik itu suka maupun duka.
(Batam, 19 Oktober 2010)
Langganan:
Komentar (Atom)