Suatu hari dalam perjalanan kereta dari Jogja ke Surabaya, aku duduk di sebelah seorang laki-laki, mungkin usianya sekitar 70an. Si Bapak mengenakan baju serba hitam, berpeci, 3 buah cincin dengan batu akik warna-warni terlihat mencolok di jari-jari tangan kiri, dan sebuah gelang besar terbuat dari tulang melingkar di pergelangan tangan kiri. Rambut panjang sebahu dan jenggot semakin menambah seram penampilan si Bapak tua.
Awalnya ketika melihat si Bapak dan sadar bahwa aku akan duduk di sebelahnya, ada rasa kuatir dan agak takut. Penampilannya yang menyeramkan membuatku berpikir jangan-jangan Bapak ini orang jahat. "Turun mana?", tanya si Bapak dengan senyum dan logat Sunda yang kental. "Oh...saya turun Surabaya", jawabku dengan agak ragu."Kalau gitu Abah duduk di sini aja, Abah turun Solo, kan dekat". Sambil mempersilahkan aku duduk dekat jendela, Abah berpindah tempat duduk dan memindahkan tasnya yang besar. Sejak saat itu mulailah percakapan di antara aku dan si Abah. Suasana mulai mencair karena rasa takutku mulai memudar.
Si Abah mulai bercerita tentang pekerjaannya, penjual batu akik. Bapak asal Garut ini biasanya berjualan di Jalan Malioboro Jogja atau di Solo, kadang juga sampai Pasar Turi Surabaya. Nggak heran kalau bawaannya tas besar dan berat, kata Abah tasnya kira-kira 18 kg, wah berat juga ya. Untung tas Abah ada rodanya, jadi nggak berat bawanya. Percakapan dimulai dengan tanya jawab tentang batu akik, jenis dan asalnya. Batu apa yang paling banyak peminat. Jualan Abah bervariasi dari batu asal Indonesia sampai batu impor. Yang paling banyak dicari dan yang kualitas bagus adalah batu impor. "Yang dari sini biasa aja. Kalau orang sudah suka batu akik, berapa pun harganya dibeli", si Abah menjelaskan.
"Abah jualan akik sejak tahun 62. Sekarang sebenernya udah nggak boleh jualan sama anak Abah, disuruh istirahat di rumah aja. Tapi Abah mah nggak betah diem di rumah." Terus aku tanya, "Lha ini kok Abah jualan? Boleh sama anaknya?" Si abah kemudian melanjutkan berkisah tentang keluarganya. Anak Abah 2, yang laki-laki seorang tentara bertugas di Jakarta, yang perempuan polwan di Bandung. Kalau anaknya mau pulang ke Garut, terutama kalau anak laki-lakinya mau pulang, Abah pun segera pulang kampung, duduk manis di rumah atau mancing di belakang rumah, sehingga kalau anaknya pulang, dia senang melihat Abah santai di rumah. Begitu si anak kembali ke Jakarta atau Bandung, si Abah pun segera mulai jualan lagi, biasanya naik kereta ke Jogja atau Solo. Pernah satu kali, anak yang laki-laki tiba-tiba pulang dan mendapati Abah nggak di rumah. Si anak mencari sampai ke Jogja dan Abah langsung dibawa pulang ke Garut. "Sekarang anak-anak sibuk, yang laki udah Brigjen, yang perempuan Kapolsek di Bandung. Mereka udah nggak sempat cari Abah. Asal Abah di rumah waktu mereka pulang ke Garut, aman", tutur Abah sambil senyum-senyum. Si Abah kelihatan begitu menikmati pekerjaannya tapi juga sekaligus kelihatan bangga dengan kedua anaknya dan mencintai mereka.
Sebuah percakapan singkat sepanjang perjalanan Jogja-Solo tapi jadi percakapan yang berkesan. Si Abah berjuang berjualan batu akik dari satu kota ke kota lain, membesarkan kedua anaknya sampai mereka berhasil. Si Abah yang berpenampilan seram ternyata seorang bapak yang luar biasa yang mencintai keluarga dan pekerjaannya. Tetap sehat ya, Abah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar