Sebagai
anak kos yang nggak bisa dan nggak suka masak, aku sering beli makan di warung,
kedai atau restoran. Ada sebuah warung makan di dekat rumah, langgananku setiap
hari Sabtu. Kalau hari Sabtu aku ke kantor lebih awal, sekitar jam 8 atau 9,
tempat makan di mall tempatku bekerja belum buka, jadi biasanya aku beli makan
di warung itu. Nama warungnya Yestoya, kepanjangannya YESus TOlong saYa. Menarik
kan?
Yang
menarik bukan saja nama warungnya tetapi juga tante yang jualan di warung.
Seorang wanita usia 50an yang ramah kepada semua pembeli. Suatu pagi, saat
sedang antri, ada seorang ibu tua yang ikut antri, dari barang-barang yang
dibawa kita tahu bahwa si ibu tersebut adalah seorang pemulung. Setelah si ibu
ini ada seorang ibu lain datang untuk beli sarapan, dia datang pakai mobil dan
kelihatan terburu-buru minta segera dilayani. Si tante pemilik warung dengan
senyum berkata, “Sebentar ya saya melayani ibu ini dulu”. Ketika si ibu
pemulung mau membayar, si tante menolak dengan halus, “Udah nggak usah”.
Si
tante melayani setiap pembeli dengan ramah, tidak pandang si pembeli datang
jalan kaki, naik motor atau naik mobil, pemulung atau orang kaya, semua
dilayani dengan ramah dan senyum. Setiap kali selesai melayani pembeli, dua
kalimat yang selalu diucapkan, “Terimakasih. Tuhan berkati”. Sejuk terasa di
hati mendengarnya. Coba bandingkan ketika kita belanja di mini market, biasanya
penjaga toko berkata, “Terimakasih. Silahkan berbelanja kembali”.
Selama
Warung Yestoya dekat rumah masih buka, aku akan jadi pelanggan setia. Karena
setiap kali beli sarapan aku dapat bonus, diingatkan bahwa Tuhan memberkati
kita J.
Surabaya, 3 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar