Minggu, 03 Agustus 2014

Laparoscopy for a Better Quality of Life


Suatu hari ketika cuti pulang ke Jogja, September 2013, aku menemui dokter kandungan untuk cek. Setengah tahun terakhir haid terganggu, siklusnya sih teratur, tapi semakin sakit, banyak dan lama. Tahun 2007 pernah ada kista di kedua ovarium dan sudah dinyatakan sembuh setelah terapi hormon. Ternyata kekuatiranku beralasan, dari hasil USG dokter menemukan kista tumbuh lagi di kedua ovarium dan tampak juga miom meski masih kecil. Kista di ovarium kiri hampir 5 cm, sedangkan yang di kanan lebih kecil ukurannya. Dokter menyarankan untuk wait and see, cek 3 bulan lagi. Ada rasa sedih dan kuatir karena harus menghadapi penyakit yang sama, tetapi memang nggak sesedih dan panik ketika tahun 2007. Berbagi cerita dengan keluarga dan teman-teman dekat membantu mengurangi rasa sedih dan kekuatiranku. Aku pun kembali ke tempatku bekerja di Surabaya.

Setelah 3 bulan aku menemui dokter kandungan di Surabaya, hasil USG menunjukkan ukuran kista dan miom membesar. Dokter memberikan painkiller dan memintaku untuk cek 3 bulan lagi. Setiap kali datang bulan semakin sakit, perut harus dikompres pakai heating pad, minum painkiller dan nggak masuk kerja. Kadang kalau lagi kesakitan banget, aku sampai nangis sendirian di kamar. Aku bukan orang yang suka menunjukkan rasa sakit, jadi kalau lagi di kantor atau lagi ngajar, rasa sakit aku tahan, setelah sampai di kamar baru nangis. Semakin lama rasa sakit datang tidak hanya menjelang dan sewaktu haid saja, tapi juga di hari-hari lain, sakitnya kadang tiba-tiba datang dan pergi. Setiap BAB pasti mengalami kesakitan di perut bawah, meski hanya beberapa detik tapi cukup mengganggu. Yang paling mengganggu adalah ketika sedang mengajar di kelas, tiba-tiba kram perut datang menyerang.

Tanpa diduga aku dipindahtugas ke tempat kerja dekat rumah. Ini sangat membantu karena ini berarti aku tidak perlu menempuh 14 km untuk pergi ke kantor. Sekarang hanya perlu waktu 10 menit untuk ke kantor. Aku bisa menghemat energi dan tentu saja biaya transportasi.

Belum genap 3 bulan, aku kembali menemui dokter, karena sakit yang semakin mengganggu dan obat penahan sakit dari dokter sudah habis. Dokter menyarankan untuk operasi laparoskopi karena sakitnya yang semakin mengganggu, belum lagi tekanan darah tinggi karena menahan sakit. Saat itu tekanan darahku 150/100. Dokter mengatakan kalau operasi kista dan miom diangkat dan endometriosis dibersihkan. Kemudian aku mulai mencari informasi tentang laparoskopi.

Laparoskopi adalah teknik bedah invasif minimal yang menggunakan alat-alat berdiameter kecil untuk menggantikan tangan dokter melakukan prosedur bedah di dalam rongga perut. Kamera mini digunakan dengan terlebih dahulu dimasukkan gas untuk membuat jarak pemisah antara rongga sehingga dapat terlihat dengan jelas. Dokter melakukan pembedahan dengan melihat layar monitor dan mengoperasikan alat-alat tersebut dengan kedua tangannya. Keuntungan teknik laparoskopi antara lain, kerusakan jaringan lebih ringan, nyeri pasca operasi lebih ringan, lama perawatan lebih singkat, resiko infeksi lebih kecil, sisi kosmetik lebih baik karena sayatan yang minimal, serta masa recovery yang lebih cepat. Tidak semua dokter kandungan bisa melakukan laparoskopi dan tidak semua rumah sakit punya fasilitas laparoskopi untuk kandungan.

Aku mengambil cuti dan pulang ke Jogja. Keluarga besarku tinggal di Jogja, jadi aku merasa lebih nyaman kalau operasi di kampung halaman. Pertimbangan lain adalah biaya operasi di Jogja lebih murah daripada di Surabaya.

Mulailah pencarian berikutnya dengan mencari second opinion di beberapa dokter dan rumah sakit. Atas saran salah satu dokter aku menemui dr Shofwal Widad, SpOG di Klinik Permata Hati, RSUP Dr Sardjito. Dr Widad teliti menanyakan keluhan yang ada, sabar, pendengar yang baik dan berpengalaman dalam melakukan laparoskopi. Setelah diskusi dan meminta pertimbangan kakak-kakak, akhirnya diputuskan untuk operasi. Jadwal operasi yang padat membuatku harus menunggu 1 bulan. Ini memberi waktu untuk memikirkan bagaimana cara mencukupkan biaya operasi yang menurut perkiraan belasan juta rupiah. Tidak ada kerjasama antara asuransi kantor dengan RS Dr Sardjito, jadi aku harus bayar sendiri dulu baru nanti reimbursement, itu pun tidak tahu berapa yang akan dicover oleh pihak asuransi. Bersyukur tabungan, bantuan teman dan saudara,  pinjaman dari kakak dan kantor tempatku bekerja cukup untuk biaya operasi.

Dua minggu sebelum operasi, nyeri haid tidak tertahankan, kehabisan painkiller, waktu itu aku ijin nggak masuk kerja, di kos sendirian karena teman-teman udah berangkat kerja, mbak yang biasanya bantu di rumah pas ijin nggak masuk, aku pun ke IGD RS naik taksi. Setelah mendapat stronger painkiller, baru rasa sakitnya berkurang. Karena menahan sakit tekanan darahku saat itu sampai 170/100. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.

Seperti yang direncanakan, operasi laparoskopi dilaksanakan pada hari Jumat, 4 April 2014 jam 13:00 WIB. Persiapan dan operasi berjalan dengan baik dan lancar. Selama operasi keluarga disediakan ruang tunggu dan bisa menyaksikan jalannya operasi melalui layar TV. Salah seorang kakak dan keponakan bergantian merekam selama operasi. Ternyata aku cukup punya keberanian untuk menonton rekaman jalannya operasi, jadi paham apa yang dilakukan dokter selama operasi. Aku tidak keberatan jadi objek pembelajaran buat om, tante, kakak, keponakan dan sepupu. Jadi tahu apa itu rahim, ovarium, bagaiamana bentuk kista, miom dan bagaimana proses operasi laparoskopi. Operasi berlangsung selama 2 jam. Ketika sadar dari pengaruh obat bius, bekas operasi tidak terlalu terasa sakit, memang terasa nyeri tapi nggak sampai membuatku kesakitan, mungkin juga karena obat-obat yang diberikan cukup kuat sehingga bisa mengatasi rasa sakit pasca operasi.  Menurutku justru lebih sakit ketika nyeri haid dan jauh lebih sakit ketika dulu operasi operasi usus buntu tahun 2000. Yang jelas ada perasaan lega karena sumber sakitnya sudah diangkat. Diagnosa dokter setelah operasi endometriosis stage IV, kista ovarium, mioma uteri dan adenomiosis. Hasil uji patologis mengkonfirmasi diagnosa kista endomrtriosis dan mioma uteri. Dengan kondisi ini, dokter mengatakan aku perlu menjalani terapi hormon, Tapros, via injeksi 4 kali kemudian dilanjutkan  dengan terapi dengan minum obat hormon, Visanne, untuk jangka panjang.

Untuk tahu lebih jauh tentang diagnosa penyakitku, berikut ini penjelasan singkatnya:
  • Endometriosis: Tumbuhnya jaringan endometrium di luar rahim, misalnya di ovarium, usus haus, usus besar, bahkan bisa juga di paru-paru. Dalam operasi, tingkat keparahan endometriosis dinilai dan dibagi menjadi 4 stage, dari yang paling ringan yaitu Stage I sampai yang parah dan sudah meluas (Stage IV).
  • Kista Ovarium: Kantung yang biasanya berisi cairan yang berkembang dalam indung telur, kebanyakan jinak. Salah satu contohnya kista endometriosis. Ukuran kista tidak selalu berkaitan langsung dengan tingkat rasa sakit yang diderita. Ukuran kista kecil, tapi sakitnya bisa jadi luar biasa, sebaliknya kistanya besar tapi bisa jadi tidak terasa sakit. 
  •  Mioma Uteri: Tumor jinak pada dinding rahim.
  • Adenomiosis: Kondisi dimana jaringan endometrium tubuh di dalam lapisan tengah rahim (miometrium). Adenomiosis sering salah didiagnosis sebagai mioma uteri, karena dari hasil USG hampir sama. Bedanya adenomiosis bentuknya tidak beraturan dan batasnya tidak jelas seperti miom. Adenomiosis sulit diatasi dengan operasi karena jaringan tumbuh di lapisan tengah rahim. Ada satu teknik yang bisa yaitu teknik Osada, tetapi saat ini belum bisa dilakukan di Indonesia.


Pemulihan pun berjalan dengan baik. Kira-kira 1 minggu setelah operasi, aku udah naik motor, 10 hari setelah operasi aku sudah kembali bekerja. Praktis tidak ada keluhan yang berarti selama masa pemulihan. Terapi hormon dengan Tapros sudah selesai aku jalani, meski harga obat mahal (1,6-1,9 juta). Tinggal menjalani terapi hormon jangka panjang untuk mencegah kista dan miom tumbuh lagi, menghambat meluasnya endometriosis serta mengurangi keluhan dari adenomiosis. Pihak asuransi kantor mengcover hampir seluruh biaya operasi, dari 16 juta dicover 14 juta.

Kalau ada di antara teman-teman yang mengalami nyeri haid yang sampai mengganggu aktivitas, sebaiknya cek ke dokter. Cari dokter yang sabar, teliti dan mau mendengarkan keluhan kita, serta berpengalaman dalam menangani kasus gangguan reproduksi perempuan. 


Sekarang aku bisa bekerja dengan baik, nggak sering ijin sakit dan beraktivitas normal. I feel great. After laparoscopy surgery my quality of life is better.

13 komentar:

  1. Bisa ditambahi link untuk nama2 penyakit, nama dokter agar mudah dicari orang melaui search engine google dan traffic makin besar.

    BalasHapus
  2. Ok, thanks tipsnya. Ntar diajarin caranya ya.

    BalasHapus
  3. bolehkah tau biaya laparoskopi di jogja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Halo Rizkiana Rahmi,
      Biaya operasi di RS Sardjito Jogja sekitar 16 juta.

      Hapus
  4. Hi mbak... thanks infny... sy mau ty after surgery masih nyeri haid ga? Sy jg ada adenomiosis kl mens sakiiiit bgt. Tx

    BalasHapus
  5. Hi mbak... thanks infny... sy mau ty after surgery masih nyeri haid ga? Sy jg ada adenomiosis kl mens sakiiiit bgt. Tx

    BalasHapus
  6. Hai Merry,
    Setiap orang bisa jadi berbeda2 kondisi setelah operasi. Kalau saya, selama terapi dengan tapros pasca operasi, tidak haid. Ini efek dari terapi, jadi waktu itu sekitar 5 bulan nggak haid. Setelah itu terapi hormon berikutnya minum Visanne, nggak ada nyeri haid.

    Sempat malas minum obat dan berhenti minum visanne beberapa bulan, nyeri haid mulai datang lagi. Sekarang rutin minum obat hormon visanne lagi dan bebas dari nyeri haid. Obatnya lumayan mahal sih, sekitar 500 ribu utk 28 hari.

    Coba konsultasikan ke dokter dan tanyakan terapi apa setelah laparoskopi.

    BalasHapus
  7. Menarik sx pengalaman ini. Semoga bs membantu ku dg pengobatan Adenomyosis ini.

    BalasHapus
  8. Hi aku juga ngalamin hal hampir sama, operasi kista endo
    Dan skg lagi treatment adenomiosis
    Kalo mau sharing bisa komen di instagram ku @dalanalalife nt aku kasih nomer wa ku. Sedikit bgt ya yg sharing ttg adeno. Jd seneng bgt kalo ada temen yg berhasil sembuh atau sharing treatment nya apa. Mengingat problem ini bisa kambuhan :(

    BalasHapus
  9. Halo mba, pas baca crita mba kok ky aku bgt yh, sama2 skt endometriosis, sdh dioperasi tp tumbuh lg, sm2 pengajar kampusny jauh, trus sm2 ga suka triak2 atau ngeluh kl kesakitan, lbh sering nangis sendiri dikamar hiks..
    Aku jg semakin lama smakin sakit, jd sering bolos ngajar, skrng disuruh minum visanne tp kok malah haid ga lancar sering muncul bercak plus sktnya tmbah gila..haid atau ga haid ttp sakit.. huhuhu.. mau operasi tp masa blm nikah dah dioperasi 2 kali.. hiks
    Btw Mba minum visanne kmrn gmn?

    BalasHapus
  10. terima kasih banyak mbak sudah berbagi pengalamannya, izin share biar penderita kista yang lain tahu bahwa banyak wanita yang sama-sama mengalaminya !

    BalasHapus
  11. Salam kenal mbk...selamat yaa sdh sehat lagi...sy kmrn post laparaskopi dengan dr widad..dr nya sangaat teliti..detils..baik..sy laparaskopi karena ada myoma uteri dan juga dlm rangka promil..utk melihat juga apakah saluran telurnya paten atau tidak..smoga promil saya bisa segera berhasil..aamiin.bener spt yg mbk tuliskan...recovery nya cepat dan segera bs aktivitas lagi.

    BalasHapus