Kamis, 23 Juni 2011

Jadi sopir taksi, kenapa tidak?

Ketika naik taksi, beberapa kali saya mengobrol dengan sopir taksi. Kadang-kadang kami ngobrol tentang kondisi lalu lintas, berita aktual sampai suka duka jadi sopir taksi. Ada yang berkeluh kesah tentang susahnya jadi sopir taksi: harus mengejar setoran, dimaki-maki penumpang, atau ketatnya persaingan dengan taksi yang lain. Tetapi ada juga mengungkapkan betapa mereka bersyukur jadi sopir taksi.

Seorang sopir taksi, Pak Tono, menceritakan bahwa sebelumnya dia bekerja di sebuah perusahaan besar dimana dia sering tugas di luar kota. Gaji besar plus insentif dan tunjangan bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Pak Tono menikmati  pekerjaannya karena dia juga suka travelling. Suatu hari dia tugas di luar kota cukup lama dan ketika dia pulang ke rumah anak bungsunya tidak mengenali dia. Begitu sampai di rumah si bungsu memanggilnya dengan sebutan "Om". Saat itu dia merasa sangat sedih dan menyesal karena pekerjaannya membuat anaknya tidak mengenalinya sebagai ayah.

Sejak saat itu dia berpikir pekerjaan apa yang sesuai sehingga dia tetap dekat dengan keluarga. Pak Tono sempat minta dipindahtugaskan di bagian administrasi di kantor pusat, tetapi dia tidak nyaman karena tidak bisa menyalurkan kegemarannya travelling. Akhirnya dia mengundurkan dari tempat kerja dan memutuskan untuk menjadi sopir taksi. "Saya sangat menikmati jadi sopir taksi, karena bisa mengatur sendiri jam kerja saya. Kalau perlu, sewaktu-waktu bisa pulang ke rumah walau cuma sebentar. Saya juga bisa travelling keliling kota sambil mengantar para penumpang. Meski gaji tidak sebesar dulu tapi saya bahagia bisa lebih dekat dengan keluarga".

Seorang sopir taksi yang lain, Pak Deden, berkisah kenapa dia menjadi sopir taksi. Dulu dia bekerja di sebuah perusahaan kayu di Kepulauan Riau, tetapi kayu didapat secara ilegal. Pemilik perusahaan tersebut adalah  seorang petinggi di jajaran aparat negara. Ketika bertugas mengantar kayu-kayu hasil penebangan liar,  dia dan rekan-rekannya pun dibekali senjata api lengkap untuk mencegah para perompak di tengah perjalanan. Setelah beberapa lama Pak Deden menjalani pekerjaan tersebut, hatinya semakin tidak sejahtera, "Saya merasa pekerjaan itu tidak membawa barokah, jadi saya berhenti dan mengadu nasib di ibukota. Akhirnya saya memutuskan jadi sopir taksi. Yang penting pekerjaan ini bisa menghidupi saya dan keluarga. Dan yang lebih penting pekerjaan ini halal".

Ada yang tertarik menjadi sopir taksi??? :)

Apa pun pekerjaan kita, selama pekerjaan itu kita nikmati, tidak merugikan serta membawa kebahagian buat kita dan orang-orang yang kita cintai, kerjakanlah dengan sepenuh hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar